Rabu, 01 Desember 2010

COTAL TRIANGLE INITIATIVE (CTI) , artinya bagi Makassar..

Coral Triangle Initiative (CTI), merupakan komitmen politis sekaligus implementasi proaktif yang dibuat dan disepakati secara bersama oleh Presiden Republik Indonesia beserta 7 kepala Negara lainnya yang berada pada daerah Coral Triangle Initiative, beserta dengan pihak swasta, pihak social dan dunia internasional yang menyatakan kepeduliannya untuk senantiasa menjaga daerah sumberdaya biologi ekosistem pesisir dan laut untuk mempertahankan kesinambungan pertumbuhan ekologi dan menjaganya untuk generasi yang akan datang.
Proposal tentang Coral Triangle Initiative, Fisheries, and Food Securities (CTI) yang diajukan oleh Bapak Presiden Susilo bambang Yudhoyono ini diajukan pada agustus 2007 pada Pertemuan Deklarasi Kepala Negara APEC terhadap Climate Change, dan akhirnya pada tanggal 6-7 desember 2007 di Bali terjadilah kesamaan pendapat tentang:
1. Pemahaman umum tentang nilai dari sumberdaya pesisir dan laut CT.
2. Pemahaman tentang 9 prinsip.
3. Sebuah kerangka dari Coral Triangle Initiative (CTI) dari rencana aksi yang diadopsi dari kebijakan tertinggi pemerintahan.
Adapun yang perlu dipahami dari kespakatan tentang Coral Triangle Initiative (CTI) ini adalah tidak hanya berfokus pada pengembangan karang semata, melainkan juga perikanan secara keseluruhan yang ada pada daerah ini, dan juga tentunya adalah ketahanan pangan, sebab dengan adanya usaha pengelolaan perikanan yang berkelanjutan ini diharapkan stabilitas ketahanan pangan dunia dimasa mendatang dapat terjaga.
Adapun alasan logis diperlukannya pengelolaan terpadu di daerah Coral Triangle Initiative (CTI) ini dikarenakan wilayah ini merupakan rumah dari 3000 spesis ikan, termasuk didalamnya ikan-ikan komersial penting, juga karena 75% jenis karang yang ada didunia berada atau dapat ditemukan ditempat ini, dan merupakan lokasi pemijahan 6 dari 7 jenis spesis kura kura laut.
Negara Indonesia sebagai negara dengan wilayah yang cukup luas akan daerah Coral Triangle Initiative (CTI) ini memiliki kesempatan yang besar untuk mengembangkan pengelolaan pesisir dan laut yang ada di negara kita.
Khususnya di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai kota sentral di Indonesia Timur sudah semestinya bergegas untuk memanfaatkan kesempatan ini. Hanya saja pengelolaan dalam skala besar ini tentu membutuhkan sumberdaya manusia yang paham akan pengelolaan ekosistem pesisir dan laut.
Peranan Makassar sebagai kota terbesar di Indonesia Timur ini adalah sebagai sentral pengembangan wilayah Coral Triangle Initiative (CTI) ini. Sebab di Makassarlah daerah yang cocok dan memadai secara sarana dan prasarana dibandingkan dengan daerah daerah lain di Indonesia yang terlingkup dalam Coral Triangle Initiative (CTI) ini. Terlebih lagi Makassar memang lebih dikenal sebagai kota maritime berdasarkan historis kerajaan Gowa-Tallo. Jadi tak ada lagi alasan untuk tidak bersiap dan mengambil peran dalam pengembangan Coral Triangle Initiative (CTI) ini.
Secara langsung tentu juga ada dampak dari adanya Coral Triangle Initiative (CTI) ini bagi Makassar, salah satunya adalah kebijakan-kebijakan pemerintah provinsi Sulawesi Selatan yang akan memberikan porsi yang cukup besar dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Perubahan yang cukup nyata terlihat dalam kebijakan Gubernur Sulawesi Selatan yang awalnya memberi porsi yang besar bagi kegiatan pengelolaan daratan, kini sudah mulai member ruang tersendiri bagi kegiatan kegiatan kemaritiman, sebagai contoh sudah maraknya kegiatan beraroma maritime seperti sail takabonerate, dll.
Satu yang paling baru dan mungkin baru bagi masyarakat Makassar adalah akan adanya pusat coral yang disebut sebut terbesar di Asia Tenggara dan lebih special lagi adalah pengelolaannya yang akan secara langsung oleh pemerintah daerah, bukan lagi pemerintah pusat. Hal ini tentu membanggakan mengingat sejak era otonomi daerah baru kali ini pusat pengembangan penelitian laut dikelola oleh pemerintah daerah, yang tentunya keuntungan dan berbagai hal positif lain akan diperoleh oleh masyarakat Sulawesi Selatan secara umum.
Coral center yang rencananya akan dibangun diwilayah Center Point of Indonesia (COI) ini tentu akan menjadi landmark baru bagi kota Makassar dan akan memberikan dampak secara edu-tourism, sebab dengan adanya Coral Center ini akan menjadi pusat studi pendidikan karang dan pengelolaan karang di wilayah Makassar dan sekitanya. Dan tidak hanya itu, adanya Coral Center ini akan sejalan dengan program Pemprov Visit Makassar yang baru-baru ini digalakkan, sebab seperti kita ketahui karang memiliki pesona estetika yang mumpuni untuk dijadikan sebagai komoditi wisata underwater nomor 1.
Karenya perlu sikap dan pemikiran serta itikad yang baik dan jelas dalam menggalangkan wacana Coral Triangle Initiative (CTI) yang sudah didepan mata ini. Jangan sampai hanya menjadi cerita pengantar tidur pihak tidak bertanggung jawab yang hanya mengambil keuntungan, melenceng jauh dari tujuan awal adanya Coral Triangle Initiative (CTI) yang sebenarnya.

Minggu, 28 November 2010

ICZM (Integrated Coastal Zone Management)

Perancangan dan Pengelolaan Zona Pesisir Terpadu (ICZPM – Integrated Coastal Zone Project management).
Konservasi sumberdaya dan kepentingan pembangunan ekonomi dapat dan harus dipadukan. Pembangunan berorientasi konservasi yang direncanakan secara baik akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial untuk suatu masyarakat pesisir dalam jangka panjang. Pembangunan yang merusak lingkungan pada akhirnya akan menyebabkan dampak negatif ditinjau dari aspek sosio-ekonomi .
ICZPM dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang memungkinkan orientasi kebijakan dan pengembangan strategi pengelolaan untuk memberi perhatian terhadap masalah konflik pemanfaatan sumberdaya dan mengendalikan dampak yang disebabkan oleh intervensi manusia terhadap lingkunan:.
ICZPM menyajikan suatu kerangka kelembagaan dan hukum, dengan focus tentang perencanaan dan pengelolaan lingkungan dan mengkoordinasikan berbagai badan yang berkepentingan agar dapat bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Perencanaan dan pengelolaan secara sektoral masih diperlukan namun dilaksanakan dalam rangka umum ICZPM. Pemeliharaan habitat spesies, sumberdaya alam dan pengelolaan proses pembangunan merupakan bagian dari program ICZPM
ICZPM dibuat untuk karena pengelolaan diwilayah pesisir cukup sulit detentukan karena batasannya yang tidak jelas, karenanya dinamakan integrated atau terpadu, karena pengelolaan tidak dilakukan secara sendiri sendiri melainkan secara bersama sama dengan keterpaduan sector.
Coastal zone sendiri menjadi penting karena potensi yang dimiliki daerah ini. ICZM sendiri konsepnya adalah keberlanjutan, keberlanjutan atau kesinambungan yang dimaksudkan adalah kesinambungan pengambilan keputusan yang menyesuaikan kebijakan pembangunan dengan perlindungan lingkungan.
ICZM ini bukan hanya pada kegiatan praktis tetapi juga yang terpenting adalah mengubah pemikiran dari pengguna tentaang pemanfaatan yang berkelanjutan. Dengan mengadaptasi pemikiran jangka panjang untuk keberlanjutan lingkungan yang dapat menunjang meningkatnya taraf hidup manusia.
Harapan adanya ICZM ini adalah adanya keberlanjutan yang juga memperhatikan aspek sosio-economy masyarakat, harapan lain:
• Keberlanjutan fungsi yang ada pada ekosistem pesisir.
• Mengurangi konflik penggunaan lahan.
• Menjaga kesehatan lingkungan
• Memfasilitasi pengembangan multisektoral.
Adapun integrasi yang perlu dalam ICZM antara lain:
• Integrasi antar sector, yakni sector sector yang terkait dalam pemanfaatan pesisir, seperti kegiatan pariwisata, kaitannya dengan sector lain.
• Integrasi lingkungan pesisir, tanah dan air, yakni keterkaitan antara factor biofisik dari daratan ke lingkungan perairan laut.
• Integrasi tingkat pemerintahan, hubungan antara perencana dan pengambil keputusan pada tingkat pemerintahan yang kooperatif dan konsisten.
• Integrasi antar Negara, yakni hubungannya dengan Negara Negara lain. Pengelolaan secara holistic.
• Intergrasi antar disiplin ilmu, saat ini keterkaitan antara disiplin ilmu dalam pengelolaan lingkungan.

Kamis, 14 Januari 2010

mind reconstruction

makassar, 28 agustus 2009
sebuah kejadian lucu dan menginspirasi terjadi hari ini, ketiga anak itu telihat riang dan gembira meskipun keadaannya mereka terpisah dari rekan-rekan sebayanya yang cenderung memilih bermain diluar masjid kala pak khatib berkhutbah tentang pentingnya berpuasa.
dua diantara mereka terlihat seperti kakak beradik, dan bocah yang satu lagi terlihat agak nakal,-juga dengan gigi yang tajam-tersenyum kumelihatnya.
selepas shalat jumat mereka terjebak disampingku, terlihatresah ingin sesegera mungkin keluar, melihat teman-temannya tlah lebih dulu beranjak berdiri dari peraduan tahiyatul akhirnya dan berlari lepas layaknya domba bertemu sang padang hijau. riang dan tawa menyertai langkah mereka diluar sana.
mataku dan mata bocah yang paling kecil bertemu. "nanti setelah berdoa, baru bisa balik, ya..", senyumpun tak lupa kusematkan diwajah ini, dia mengiyakan. sebisa mungkin kumengakrabkan diri dengan mereka. bertanya nama, alamat rumah, dan lain sebagainya.
 seorang bapak dari saf depan melihatku berbalik dan melihatku dengan tampang curiga, "heh, saya bukan pencuri anak-anak om", kataku dalam hati.
sang imampun memulai doa dengan khusuknya, ratusan orang lainpun larut dalam doanya, terkecuali para bocah disampingku yang mulai merasa kalau pak imam kejam dengan doanya yang berkepanjangan. si bocah kecil bertanya "kak, sudah boleh balik blum?", "blum", jawabku. tiga buah pertanyaan berikutnya pun sama, jawabankupun sama. namun yang mengagetkanku justru bocah nakal yang sekonyong-konyong saja berdiri dan menarik kakak sang bocah kecil keluar. sang adik tampak bingung, dilema antara ikut bocah nakal atau berdoa melanjutkan hajatnya.
diapun goyah, dengan wajah menyesal dia ikut keluar dengan kakaknya.
yang pasti kawan, pemikiran kita mestinya tidaklah harus seperti ini, ketiga bocah tadi memberi kita pelajaran untuk tidak "ikut-ikutan", budaya kapinawanggang ini tak hanya tidak kreatif, tapi juga membutuh kreatifitas kita secara tidak langsung. saat ini media sebagai sarana informasi dengan kadar pengaruh yang tinggi dalam mempengaruhi pemikiran audiensnya belum tentu memberikan yang paling baik dan benar. diperlukan filter dalam tiap informasi yang diberikan. bila baik, ada benarnya kita ikuti. namun bila dalam konteksnya kita tak sependapat dan bisa melakukan pembenaran terhadapnya. kenapa tidak kita melakukannya. dalam hal ini yang dilakukan adalah bagaimana merekonstruksi pikiran kita didalam menyikapi keberadaan hal-hal lain. olehnya, dari cerita diatas dapat disadari kalo salah buat apa dikuti, tak ada ruginya tetap ditempat, bila itu memang benar.



berburu lebaran


siang yang begitu terik, waktu menunjukkan pukul sebelas lewat, jalan poros Bantaeng-Makassar yang dua lajur itu kini seakan hanya selajur saja. ya, bagian tepi jalan yang rusak mengharuskan pengemudi truk didepanku untuk memonopoli jalan. hah, dan tersisalah daku beserta gamahero, terjebak dibelakangnya. berulang-ulang kumencoba melaluinya. namun, entah apa yang ada dipikiran sang pengemudi truk hingga seakan tak mau mengalah padaku ini.
aahhh.....
hari ini tepat 2 ramadhan, panasnya mentari di musim kemarau ini menambah dahaga hamba yang tengah melaksanakan ibadah saum ini.
aku pun menebak-nebak dalam hati, mungkin ini satu dari berbagai macam cara dari-Nya untuk mengujiku, namun entah ujian ataupun apa namanya, batin ini tetap bergejolak. tak sabar, dengan mengambil resiko, akhirnya kuputuskan melewati menyalipnya dengan melalui jalan tak rata yang ada.
no more mr. passion guy, walhasil, kap gamahero (nama motorku) bergetar dan berbunyi hebat lantaran jalan yang tak rata itu, dan tak sia-sia rasanya.
pekikan kemerdekaan kuteriakkan dalam hati, berhasil. ha ha ha, aku tertawa (lega) namun masih57 km lagi ke takalar saat kulihat marka jalan berwarna merah putih disisi kiri jalan. belum lg perjalanan melewati gowa dan makassar. mmm, fiuh...
penat sudah kepala ini menahan terik sang surya. melihat bendera merah putih disisi jalan, rupanya masih ada orang bernasionalisme setinggi ini, meski hari kemerdekaan tlah lewat toh sang sakanya masih berkibar, atau mungkin dia lupa, entahlah.
yang pastinya kujadi teringat dengan lelucon sobatku dulu. kala itu bulan ramadhan kebetulan bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia tercinta ini. 17 agustus. diapun berujar "waw, seumur-umur, baru kali ini tujuhbelasan ketemu ramadhan. janjian nd y!?", "kalau natal kapan ya, ketemu tujuhbelasannya?" lanjutnya berujar.
setiap tahunnya ada kemungkinan ramadhan yang berada dalam penanggalan hijriah bertemu dengan hari kemerdekaan, natal, dan hari-hari lainnya yang berada dalam penanggalam masehi. nah, berbeda dengan natal dan hari kemerdekaan yang takkan mungkin tepat atau berpapasan. mengingat keduanya berada pada penanggalan yang sama, masehi.
hahaha, sontak beberapa teman yang kebetulan mendengar guyonan yang entah disadari oleh sang pengguyon atau tidak, tertawa terbahak bahak. "lebaran monyetIpi teman, burumi itu lebaran" balasnya berujar.

Jumat, 01 Mei 2009

Central Point of Indonesia dan The New Bantaeng


"apami lanijama punna lanyya'mi tanpa' pa'boya-boyanganga"

Adalah dua mega proyek yang akan menjadi ikon Sulawesi Selatan dimasa mendatang, betapa tidak uang milyaran rupiah digelontorkan untuk merealisasikan keduanya. Tentunya dengan harapan akan meningkatnya kesejahteraan masyarakat Makassar, tempat pembangunan CPI (Central Point of Indonesia), dan Bantaeng, tempat realisasi pembangunan TNB (The New Bantaeng.
Menarik apabila kita melihat niat baik dari pemerintah kita, apatah lagi apabila kita turut mendukungnya. Namun, layaknya sebuah koin dengan dua sisi yang berbeda, marilah tak lupa kita melihat sisi lain dari pembangunan dua mega proyek ini. Dengan harapan, kiranya niat baik tetap pada berada pada rel yang benar dan tidak menjadi proyek gagal yang akhirnya malah membuat uang pajak rakyat terbuang percuma seperti yang terjadi di beberapa daerah di tanah air yang lainnya.
Disatu sisi inilah penulis mengajak kawan-kawan sekalian merenung untuk mengambil langkah kedepan tentang tindakan mengawal kebijakan pemerintah kita ini. Bisa dibayangkan, dampak kerusakan lingkungan yang mungkin saja timbul dari pembangunan proyek ini, katanya sih ada AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Tapi toh nyatanya tatap berpengaruh pada ekosistem sekitanya.
Sebut saja pembangunan Tanjung Bunga, beberapa tahun yang lalu. Katanya mengantongi AMDAL tapi nyatanya, lihatlah perubahan warna air laut disekitar tanjung. Sebagai tambahan, ciri kualitas air yang baik juga ditentukan oleh warna dan bau air. Faktanya perairan kita telah tercemar berdasar fakta dilapangan.
Hal ini sangatlah berpengaruh pada kerusakan ekosistem dan mengakibatkan biodiversity menjadi tak beragam lagi. Contohlah kerang yang dulu menjadi pencarian utama masyarakat pesisir Mariso kini telah berkurang jauh jumlahnya dibandingkan dulu.
Berikut kutipan seorang warga yang dimuat pada harian terkemuka ibukota beberapa saat lalu"apami lanijama punna lannya'mi tanpa' pa'boya-boyanganga". Seperti itulah potret dampak kerusakan yang juga berpengaruh pada dinamika kehidupan masyarakat.
Lantas, seperti apakah dinamika lingkungan dan penghidupan masyarakat pesisir nanti? Jawabannya, semua ada ditangan kita. Sejauh mana kita peduli dalam mengawal kebijakan orang-orang yang menamakan diri mereka sebagai orang-orang yang berhak mewakilkan kita. Sebab mereka pun anak cucu Adam, yang suka tak suka, senang tak senang, pasti memiliki kekurangan itu.
Pendiri bangsa ini telah menitipkan permata zamrud yang begitu nian indahnya. Saatnya melanjutkan tonggak perjuangan itu, dengan peduli, dan berusaha.

Jumat, 17 April 2009

Lamun, pahlawankah?


Tak banyak yang mengenal akan dirinya. Satu hal yang mestinya dipahami, bahwa "kita" belum sepenuhnya kenal pada alam sekitar kita. Lamun salah satunya, mungkin kata ini belum familiar ditelinga kita. Apa lagi mengenal dan mengetahui manfaatnya dalam menjaga kestabilitasan alam.
Sebagai sebuah perbandingan kecil, mungkin kita telah mengenal yang namanya-terumbu-karang, dan bakau. Ya, untuk keduanya mungkin kita telah paham bersama besarnya manfaat yang diberikan bagi kehidupan ini. Tapi tidak halnya pada lamun. Faktanya, ekosistem laut, tak hanya disusun oleh terumbu karang dan bakau saja. Melainkan ditengah-tengahnya terdapat padang lamun, Memang keberadaaannya tak nampak secara gamblang bagi orang-orang yang hanya melihatnya sepintas saja. Toh, memang habitatnya yang berada didasar perairan tak terlalu nampak, dan memang belum terlalu dikenalkan pada masyarakat. Padahal, menilik pada fakta bahwa padang lamun sangatlah berperan penting dalam ekosistem pantai. Nyatanya kita tak menjaganya dengan baik, maka betullah pepatah "tak kenal, maka tak sayang, tak sayang, maka tak cinta". Dengan ini, marilah kita mengenal sekitar kita, dan menjaganya. Indahnya hidup berdampingan dengan alam.

Sabtu, 04 April 2009

kepedulian kita









Forum tude hanyalah satu dari sekian banyak hal yang bisa kita lakukan untuk bumi kita yang sakit ini. Selamat datang, mari kembalikan alam kita pada fitrahnya. Untuk ada mendampingi kita, hingga hari nanti. kita bisa kawan.